Asal Usul Desa Sembayat
Desa Sembayat merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Manyar kabupaten Gresik,sekitar 15 km arah utara kota Gresik. Nama desa itu tidak asing lagi bagi para pengguna jalan Pantura (Pantai Utara). Lebih – lebih pada saat seputar lebaran Idul Fitri. Jalan itu dijadikan sebagai jalan alternatif bagi pemudik.
Desa itu sangat dikenal oleh para pengguna jalan Pantura karena desa itu berada di sebelah selatan jembatan yang melintas di atas sungai terpanjang di pulau Jawa, yakni Bengawan Solo. Jembatan itu menghubungkan wilayah kecamatan Bungah dengan wilayah kecamatan Manyar.
Namun demikian, belum banyak masyarakat yang tahu mengapa desa itu dinamai Sembayat. Menurut kitab asal – usul Ujungpangkah karangan Syaikh Muridin, keturunan kelima Sunan Bonang Tuban, nama Sembayat berhubungan erat dengan kisah Cinde Amo.
Cinde Amo alias Jaka Sekintel adalah putra keempat Jayeng Katon bin Sunan Bonang, saat masih remaja dipondokkan oleh orang tuanya di Pondok yang diasuh oleh Sunan Giri. Tepatnya di Giri Gresik. Sebenarnya Cinde Amo dengan Sunan Giri masih ada hubungan keluarga. Cinde Amo adalah putra Jayeng Katon bin Sunan Bonang bin Sunan Ampel bin Syeikh Ibrahim Asmarakondi bin Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra.
Hubungan kekeluargaan antara Cinde Amo dengan Sunan Giri bertemu di Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra yang melatarbelakangi Jayeng Katon mempercayakan pendidikan putranya kepada Sunan Giri. Disamping agar Cinde Amo bisa memperdalam ilmu syariat agama Islam kepada Sunan Giri. Jayeng Katon tidak salah memilih Sunan Giri sebagai guruputranya karena memang Sunan Giri dikenal sebagai deorang wali yang menguasai ilmu syariat agama Islam. Hal ini terbukti dengan gelar Ainul Yaqin yang diterimanya juga untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan.
Setelah menamatkan pelajaran di pondok Sunan Giri, Cinde Amo pulang ke Ujungpangkah. Untuk mengamalkan ilmunya, Cinde Amo mendirikan pondok pesantren di Unusan Pangkahwetan Ujungpangkah.Pondok itu dikenal dengan nama Pondok Unusan. Pondok itu berada di tepi pantai, kala itu sebelum berubah menjadi ujung. Untuk mencari Pondok Unusan tidak terlalu sulit karena di sekitar pondok itu ditandai dengan pohon kamboja. Di bawah pohon kamboja itu juga digunakan oleh Cinde Amo sebagai tempat untuk mengajarkan ilmu – ilmu kepada para santrinya. Cinde Amo rupanya sudah menerapkan sistem pendidikan modern. Pendidikan tidak hanya dilaksanakan di dalam ruang belajar saja, namun juga menggunakan alam sekitar sebagai tempat belajar.
Suatu hari Cinde Amo dipanggil Nyai Jika, panggilan ibunya. Untuk mencari ayahnya yang sudah lama meninggalkan Ujungpangkah untuk berdakwah keliling pulau Jawa dan keluar pulau Jawa.Sebenarnya Nyai Jika sudah menugasi saudara –saudara Cinde Amo untuk mencari ayah mereka, namun belum berhasil. Pendil Wesi, putra pertama mencari di wilayah Lamongan dan sekitarnya. Jaka Karang Wesi mencari ke wilayah Demak dan sekitarnya.Begitu juga Jaka Berek Sawonggaling yang tidak berhasil menemukan keberadaan ayahnya. Maklum Jayeng Katon suka berdakwah dari satu tempat ke tempat yang lainnya sambil bersilaturrahim kepada keluarga dan para santrinya yang pernah belajar di pondok Pangkah miliknya.
Kini giliran Cinde Amo, putra keempat Nyai Jika yang ditugaskan mencari abahnya. Ia bertugas mencari keberadaan ayahnya di wilayah Gresik dan sekitarnya karena waktu kecil ia dipondokkan di pondok Sunan Giri yang berada di pegunungan Giri Gresik.
Cinde Amo bersilaturrahim ke Sunan Giri gurunya untuk meminta petunjuk keberadaan abahnya.Di pondok Giri, Cinde Amo teringat masa – masa belajar dengan Sunan Giri. Ia mempelajari dengan tekun pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ia juga menghafalkan Al-Qur’an selama di pondok. Ia baru meninggalkan pondok Giri setelah tamat belajar dan hafal Al-Qur’an.
Di tengah perjalanan, Cinde Amo bertemu dengan seorang gadis cantik. Ia terpikat gadis itu. Lalu ia datangi rumah orang tua gadis itu dengan mengutarakan maksud kedatangannya. Orang tua gadis itu menanyakan keluarga yang datang Cinde Amo. Cinde Amo mengutarakan kepada calon mertuanya dengan apa adanya. Ia tidak menambah dan juga tidak menguranginya. Ia masih memegang teguh ajaran gurunya agar ia selalu berkata jujur kepada siapa saja karena jujur itu termasuk sifat orang beriman. Sebaliknya berbohong itu termasuk sifat orang munafik.
Lamaran Cinde Amo pun diterima setelah mengetahui latar belakang keluarganya. Ia dinikahkan dengan putrinya.Setelah menikah ia membuat pondokan sendiri. Di pondokan itu penduduk setempat menyuruh anak – anaknya untuk belajar agama kepadanya. Kian hari kian bertambah anak – anak yang datang. Mula – mula hanya ada anak – anak penduduk setempat, namun lama – kelamaan anak – anak dari luar ikut membanjiri rumahnya. Rumahnya berubah menjadi pondok. Masyarakat setempat dan penduduk sekitarnya datang menitipkan putra – putrinya untuk dididik oleh Cinde Amo. Hal ini membuat Cinde Amo terkenal di tempat itu. Sebagai orang yang alim dan hafal Al-Qur’an. Banyak Ulama ke pondoknya untuk berdiskusi tentang ayat – ayat dalam kitab suci Al-Qur’an. Mereka mohon penjelasan makna yang terkandung dalam ayat – ayat Al-Qur’an. Cinde Amo menerangkan secara gamblang makna yang tersurat maupun yang tersirat dari ayat – ayat yang dipertanyakan. Ia juga banyak didatangi ulama – ulama dari berbagai daerah untuk memesan tulisan tangan. Ada ulama yang datang memesan Al-Qur’an Stambul dan Qur’an berukuran kecil.
Suatu hari Sunan Kalijogo bersilaturrahim ke pondoknya. Ia memberi wejangan kepada Cinde Amo. Wejangan itu disampaikan dalam bentuk tembang dandang gulo. Wejangan itu dihafal oleh Cinde Amo. Tembang itu juga sering dilagukan oleh Cinde Amo di pondoknya sebelum memberikan pelajaran kepada santri – santrinya.
Dalam kesempatan itu, Sunan Kalijogo memanggil Cinde Amo dengan sebutan Ki Ageng Mbah Ayat karena kedalaman ilmunya dalam memahami setiap ayat – ayat Al-Qur’an. Sejak saat itu para santri dan penduduk setempat bahkan ulama – ulama yang datang ke pondoknya memanggilnya Ki Ageng Mbah Ayat. Dari panggilan itu muncul panggilan – panggilan serupa seperti Mbah Ayat, Si Mbahe Ayat, Ki Mbayat.Dari panggilan itu namanya diabadikan sebagai nama tempat pondoknya yaitu Pondok Mbayat atau Pondok Sembayat. Begitu juga desa tempat pondok itu berada yaitu Desa Sembayat atau bayat.
Suatu hari Ki Ageng Bayat pulang ke Ujungpangkah. Ia ke pondok Unusan menemui santri – santri yang lama ditinggalkan mengembara mencari Jayeng Katon. Ia juga mengunjungi Nyai Jika dan mengabarkan kegagalannya mencari abahnya. Ia harus bolak – balik dari pondok Unusan Ujungpangkah ke pondok Bayat.
Cinde Amo mempunyai tiga belas putra. Sepuluh dari putra Cinde Amo tinggal di wilayah Sembayat sedangakan tiga lainnya menetap di Ujungpangkah. Jaka Sembung adalah anaknya yang dipercaya membantu mengasuh pondok Unusan Ujungpangkah bila dirinya pergi berdakwah.
Pada masa tuanya, Cinde Amo memilih menetap di Ujungpangkah untuk mengurusi pondok Unusan yang lama ditinggalkan hingga akhir hayatnya. Sedangkan pondok Sembayat dipercayakan kepada putra – putranya untuk meneruskan kelangsungan pendidikannya.
Cinde Amo wafat di Ujungpangkah dan dimakamkan di sekitar pondok Unusan Pangkahwetan Ujungpangkah. Makam Cinde Amo dikenal dengan nama kuburan Unusan. Kini kuburan Cinde Amo itu berada di belakang gedung SDN Pangkahwetan 2 Ujungpangkah.